NAVIGASI MENU

Inisiasi Menyusui Dini Cegah Resiko Kematian Bayi

Sumber: Situs Kementerian Negara Koordinator Bidang Kesra

Tindakan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yang dilakukan ibu baru melahirkan membantu bayi memperoleh air susu ibu (ASI) pertamanya dan dapat meningkatkan produksi ASI serta membangun ikatan kasih antara ibu dan bayi. IMD juga terbukti dapat mencegah 22 persen risiko kematian pada bayi baru lahir.

“Jika menyusu dini diterapkan pada setiap bayi baru lahir, maka 22 persen kematian bayi baru lahir dapat dicegah. Hal ini akan berdampak besar pada penurunan tingkat kematian bayi dan ibu,” tandas Utami Rusli Ketua Sentra Laktasi Indonesia, yang disampaikan pada acara ‘Pernyataan Komitmen 1001 Ibu Hamil Dari Seluruh DKI Jakarta, Guna Bersama-sama Melakukan Upaya Menyusu Dini, Paska Melahirkan’, di Jakarta.

Utami memaparkan, IMD, yang dilakukan oleh ibu, pada kesempatan satu jam pertama paska bayi lahir, akan melatih bayi secara naluriah menemukan sendiri puting susu ibunya. “Satu jam pertama setalah bayi lahir, adalah kesempatan emas yang akan menentukan keberhasilan ibu untuk menysui bayinya secara optimal. Hasil penelitian mengungkapkan, bila bayi bisa menyusu dalam 20-30 menit pertama setelah lahir, ini akan membangun releks menghisap pada bayi. Sehingga proses menyusu berikutnya kana lebih baik,” jelas Utami.

Selain mencegah risiko kematian, terdapat dua kerugian lainya bila bayi tidak disusui dini. Pertama, kedepannya bayi cenderung tidak berminat untuk menyusu. Kedua, bila tidak segera disusui, kedepan si ibu akan kesulitan memberi ASI ekslusif yang harus diberikan eksklusif selama 6 bulan. Penelitian menunjukan, rata-rata bayi yang tidak segera disusui hanya bertahan menyusu selama 3 bulan.

Di seluruh dunia, setiap tahunnya, sekitar empat juta dari 136 juta bayi dibawah usia 28 hari meninggal. Tindakan IMD dalam satu jam pertama diperkirakan akan menyelamatkan tidak kurang dari satu juta bayi.

Terdapat suatu fakta ironis di Indonesia. Di satu sisi, kita begitu gelisah dengan tingginya kematian ibu dan anak, namun di sisi lain masyarakat Indonesia, tidak risau dan bahkan mengabaikan pentingnya ASI yang dapat mencegah berbagai penyakit infeksi dan alergi.

Berdasar survai yang dilakukan Hellen Keller International pada 2002, terungkap, rata-rata bayi Indonesia yang mendapatkan ASI ekslusif sampai saat ini baru mencapai angka 1,7 bulan. Angka tersebut masih 4,3 bulan jauh di bawah lama waktu optimal yang direkomendasikan WHO serta SK Menkes No.450/Menkes/SK/IV/2004.

Yang sangat menyedihkan, dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), terungkap bahwa tingkat partisipasi pemberian ASI di negeri ini justeru mengalami penurunan dari 42,4 persen pada tahun 1997 menjadi hanya 39,5 persen pada posisi tahun 2002-2003.

Perlu undang-undang

Kendala sosialisai ASI dan IMD selain mitos tradisional yang tumbuh di masyarakat, juga lanjut Utami berasal dari gencarnya promosi susu formula atau makanan bayi yang membodohi masyarakat. Disebutkan menyesatkan, pasalnya dalam promosi, baik dilakukan secara terang atau terselubung, kerap dimasukan pesan bahwa susu formula setara khasiatnya dengan ASI.

Yang terparah, dalam sautu penelitian, tercatat 76 persen ibu-ibu mengaku sumber informasi promosi susu formula justru didapat dari fasilitas kesehatan. Beberapa negara lanjut Utami, seperti Kanada, telah menerapkan komitmen World Health Assembly (WHA) pada tahun 1981. Diantaranya, yakni komitmen untuk melarang memberikan promosi dalam bentuk memberikan contoh (sample) gratis atau diskon pada ibu-ibu.

Dilarang memberi promosi melalui sarana dan petugas pelayanan kesehatan. Melarang memuat gambar bayi yang mengidealkan susu formula dalam iklannya. Melarang produk susu kental manis untuk bayi dan sebagainya.

Sayangnya harapan Utami, nampaknya belum segera ditindaklanjuti oleh birokrat pemerintah. “Pelarangan promosi susu, tidak mungkin segera dibuat peraturannya. Susu kan tidak berbahaya seperti rokok,” jelas Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Namun demikian, Fauzi sepakat bahwa sosialisasi ASI perlu dilakukan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Wibowo Sukijat menambahkan, pihaknya berupaya dalam beberapa penyelenggaraan pentingnya sosialisasi pada ibu-ibu tidak menggunakan sponsor dari susu formula. (her)

URL : http://www.menkokesra.go.id/content/view/7171/39/

0 komentar klik di sini: